Sainstech Farma: Jurnal Ilmu Kefarmasian
https://journal.istn.ac.id/index.php/saintechfarma
<p>Sainstech Farma adalah jurnal yang memuat artikel-artikel terseleksi dari hasil penelitian dan kajian pustaka berbasis pengetahuan yang terkait dengan bidang kefarmasian. Artikel berasal dari penulis yang berafiliasi dengan Universitas, Lembaga Penelitian, dan Lembaga Pemerintah Non Departemen (LPND), atau lembaga-lembaga lain yang memiliki aktivitas dalam riset, ilmu pengetahuan, dan teknologi yang berkaitan dengan ilmu kefarmasian. Naskah yang diterima Redaksi Jurnal Sainstech Farma akan ditelaah dan diseleksi oleh Mitra Bestari dan Dewan Redaksi sesuai dengan bidang keahliannya. Jurnal Sainstech Farma terbit dua kali per tahun (Januari dan Juli).</p> <p> </p>LPPM, INSTITUT SAINS DAN TEKNOLOGI NASIONALen-USSainstech Farma: Jurnal Ilmu Kefarmasian2086-7816Identifikasi Kesesuaian dan Potensi Interaksi Obat Antihipertensi pada Pasien GGK (Hemodialisa) di Instalasi Rawat Jalan RSUP Fatmawati Jakarta Selatan
https://journal.istn.ac.id/index.php/saintechfarma/article/view/442
<p>Penyakit Gagal Ginjal Kronis/ GGK ditandai dengan penurunan Laju Filtrasi Glomerulus/LFG <60 ml/menit/1,73m<sup>2</sup> memerlukan terapi pengganti ginjal seperti hemodialisis. Faktor risiko terbesar yang mempengaruhi terjadinya GGK yaitu hipertensi. Pasien GGK memerlukan kombinasi beberapa obat, namun pada beberapa kasus ditemukan ketidaksesuaian penggunaan obat yang mengakibatkan tidak efektifnya pengobatan dan munculnya kejadian yang tidak diharapkan. Bertujuan untuk mengetahui karakteristik pasien, jenis obat antihipertensi terbanyak, gambaran tekanan darah, menganalisis kesesuaian obat antihipertensi, serta potensi interaksi obat berdasarkan mekanisme kerja dan tingkat keparahan pada pasien GGK yang menjalani hemodialisis. Penelitian yang digunakan adalah <em>cross-sectional</em> menggunakan metode retrospektif berdasarkan data rekam medis pasien. Sampel diambil berdasarkan kriteria inklusi dan ekslusi dengan metode <em>purposive sampling </em>periode Januari-Juni 2022<em>.</em> Hasil penelitian menunjukkan karakteristik pasien berdasarkan usia terbanyak pada rentang usia 55-64 tahun, jenis kelamin terbanyak adalah laki-laki, serta penyakit penyerta terbanyak adalah hipertensi. Obat antihipertensi tunggal yang paling banyak digunakan adalah ramipril (2,91%), obat antihipertensi kombinasi terbanyak adalah candesartan, amlodipine dan bisoprolol (8,74%). Pasien GGK paling banyak menderita hipertensi <em>stage</em> 2 (49,02%). Evaluasi kesesuaian penggunaan obat menunjukkan tepat pasien (100%), tepat indikasi (100%), tepat obat (100%), tepat dosis (100%), dan tepat cara pemberian (100%). Potensi interaksi obat berdasarkan literatur terhadap mekanisme kerja terbanyak yaitu farmakodinamik (64,47%) dan tingkat keparahan terbanyak yaitu moderate (75,66%).</p>Untari Kartika WidyapramesthiAmelia FebrianiLia PuspitasariDwi Yulianti
Copyright (c) 2026 Sainstech Farma: Jurnal Ilmu Kefarmasian
2026-01-312026-01-3119111210.37277/sfj.v19i1.442Evaluasi Drug Related Problems (DRPs) pada Pasien Anak ISPA Bagian Atas di Klinik Pratama St. Carolus Paseban Periode Juli- September 2024
https://journal.istn.ac.id/index.php/saintechfarma/article/view/2566
<p>Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) merupakan infeksi yang menyerang saluran pernapasan bagian atas maupun bawah yang bersifat menular, tingkat keparahan dapat bervariasi dari ringan hingga mengancam jiwa. Tingkat keparahan dipengaruhi jenis mikroorganisme penyebab, faktor lingkungan, kondisi kesehatan individu. Faktor yang dapat menghambat keberhasilan terapi ISPA adalah adanya masalah terkait obat atau Drug Related Problems (DRPs) meliputi ketidaktepatan dosis, interaksi antar obat, pemilihan obat kurang sesuai, serta penggunaan obat tanpa indikasi atau adanya indikasi tidak diikuti pemberian obat. Penelitian bertujuan mengidentifikasi, menganalisis, dan mengevaluasi DRPs pada pasien ISPA saluran atas. Metode penelitian deskriptif cross-sectional menggunakan data rekam medis pasien tahun 2024. Sebanyak 107 pasien memenuhi kriteria inklusi. Hasil temuan DRPs dosis rendah 67 pasien (63%), dosis tinggi 1 pasien (1%), penggunaan obat tanpa indikasi 7 pasien (7%), indikasi tanpa obat 1 pasien (1%), interaksi obat 16 pasien (15%). Pentingnya peran apoteker dalam memantau penggunaan obat guna menekan kejadian DRPs dan mendukung efektivitas terapi pasien ISPA.</p>Anastasya Chandra SariFransisca Dhani KurniasihRitha Widyapratiwi
Copyright (c) 2026 Sainstech Farma: Jurnal Ilmu Kefarmasian
2026-02-232026-02-23191131810.37277/sfj.v19i1.2566Hubungan Tingkat Pengetahuan Penggunaan Antibiotik terhadap Sikap Masyarakat Kelurahan Cipedak, Jakarta Selatan
https://journal.istn.ac.id/index.php/saintechfarma/article/view/2572
<p>Di Indonesia, penggunaan antibiotik secara tidak rasional masih banyak ditemukan. Berbagai studi mengungkapkan bahwa sebagian besar masyarakat masih memiliki pemahaman yang keliru terkait antibiotik, seperti anggapan bahwa antibiotik dapat menyembuhkan semua jenis penyakit, termasuk infeksi virus. Sebuah studi review nasional oleh Oktariza (2025) menunjukkan bahwa pembelian antibiotik tanpa resep masih terjadi pada lebih dari 40% responden, dan 50–74% responden menghentikan penggunaan antibiotik sebelum waktunya. Hal ini menjadi bukti bahwa masih terdapat celah dalam pengetahuan masyarakat mengenai penggunaan antibiotik yang benar. Tujuan dari penelitian ini Adalah untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan dan sikap masyarakat dalam penggunaan antibiotic. Jenis penelitian ini Adalah deskriptif analitik dan desain penelitian <em>cross sectional.</em> Populasi penelitian ini adalah warga Kelurahan Cipedak yang mengkonsumsi antibiotik. Metode teknik sampling yang digunakan adalah <em>Stratified Random Sampling</em>, dengan jumlah sampel sebanyak 120 responden. Tingkat pengetahuan responden tentang antibiotik menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki pengetahuan dalam kategori cukup (57%) dan baik (43%). Hubungan antara keduanya dengan menggunakan uji Chi-Square. Berdasarkan hasil tersebut, didapatkan hasil bahwa masyarakat di Kelurahan Cipedak Kecamatan Jagakarsa Kota Jakarta Selatan sudah memiliki pengetahuan yang sangat baik terhadap penggunaan antibiotik.</p>Silvy FauziahAinun WulandariAmelia Febriani
Copyright (c) 2026 Sainstech Farma: Jurnal Ilmu Kefarmasian
2026-01-312026-01-31191192310.37277/sfj.v19i1.2572Pengendalian Persediaan Obat Antibiotik Metode Analisis ABC di Instalasi Farmasi Rumah Sakit “X” Jakarta Utara Periode Januari-Desember 2024
https://journal.istn.ac.id/index.php/saintechfarma/article/view/2567
<p>Pengendalian persediaan antibiotik yang efektif di Instalasi Farmasi Rumah Sakit sangat penting untuk menjamin ketersediaan obat, mencegah resistensi, serta mendukung mutu pelayanan kesehatan. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi sistem pengendalian persediaan antibiotik di Instalasi Farmasi Rumah Sakit “X” Jakarta Utara periode Januari–Desember 2024. Metode penelitian yang digunakan adalah analisis deskriptif dengan pendekatan kuantitatif, menggunakan data pemakaian dan nilai investasi obat antibiotik yang kemudian diolah melalui analisis ABC. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok antibiotik kategori A menyerap porsi terbesar dari total nilai investasi untuk seluruh bentuk sediaan, yakni 68,97% untuk tablet, 73,07% untuk injeksi, dan 67,97% untuk sirup. Secara keseluruhan, kelompok A menyumbang 68,06% dari total pemakaian dengan nilai investasi 69,96%. Kesimpulan dari penelitian ini adalah prioritas pengendalian persediaan perlu difokuskan pada kelompok antibiotik kategori A agar perencanaan dan pengelolaan anggaran menjadi lebih efisien serta mampu menekan potensi resistensi antibiotik.</p>Maria Rosintan SiboroPutu Rika VeryantiPutu Nilasari
Copyright (c) 2026 Sainstech Farma: Jurnal Ilmu Kefarmasian
2026-02-232026-02-23191242810.37277/sfj.v19i1.2567Hubungan Tingkat Pengetahuan terhadap Perilaku Pengunjung dalam Penggunaan OAINS Wajib Apotek di Apotek K-24 Cimanggis, Kota Depok
https://journal.istn.ac.id/index.php/saintechfarma/article/view/2569
<p>Nyeri merupakan sensasi tidak nyaman yang timbul akibat rangsangan pada ujung saraf. Salah satu cara untuk mengatasi nyeri adalah dengan penggunaan analgesik, khususnya golongan Obat Anti-Inflamasi Non-Steroid (OAINS) yang banyak digunakan dalam swamedikasi. Penggunaan OAINS tanpa pengawasan dapat menimbulkan efek samping serius seperti gangguan lambung, ginjal, hingga hati. Anti-inflamasi non-steroid (OAINS) merupakan obat wajib apotek, dimana ada kemungkinan obat tersebut dikonsumsi secara tidak sesuai dengan aturan maupun salah dalam pemilihan obat. Perilaku tersebut juga dapat dipengaruhi oleh faktor pengetahuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan dan perilaku pengunjung dalam penggunaan Obat Wajib Apotik (OWA) OAINS di Apotek K-24 Cimanggis Kota Depok. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan metode <em>cross sectional</em> dengan sampel berjumlah 109 orang. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner dan uji <em>spearman rank</em>. Tingkat pengetahuan pengunjung Apotek K-24 Cimanggis Kota Depok tentang OWA golongan OAINS berada dalam kategori baik (60,55%). Perilaku pengunjung Apotek K-24 Cimanggis Kota Depok dalam penggunaan OWA golongan OAINS berada dalam kategori cukup (67,89 %). Terdapat hubungan yang signifikan (n = 0,01) antara tingkat pengetahuan dengan perilaku pengunjung dalam penggunaan OWA golongan OAINS di Apotek K-24 Cimanggis Kota Depok.</p>Fajrinissa FajrinissaTheodora TheodoraAmelia Febriani
Copyright (c) 2026 Sainstech Farma: Jurnal Ilmu Kefarmasian
2026-02-232026-02-23191293510.37277/sfj.v19i1.2569Evaluasi Penggunaan Obat Golongan Proton Pump Inhibitor pada Pasien Gastritis di Instalasi Rawat Inap RSIJ Cempaka Putih
https://journal.istn.ac.id/index.php/saintechfarma/article/view/2568
<p>Gastritis didefinisikan sebagai peradangan pada lapisan pelindung lambung yang dipicu oleh ketidakseimbangan antara faktor agresif, seperti infeksi <em>Helicobacter pylori</em> atau penggunaan NSAID, dengan mekanisme pertahanan mukosa. <em>Proton Pump Inhibitor</em> (PPI) merupakan obat yang digunakan untuk mengatasi gangguan terkait asam lambung. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi penggunaan obat golongan PPI pada pasien gastritis rawat inap di RSIJ Cempaka Putih, serta menilai ketepatan klinisnya. Metode penelitian bersifat deskriptif retrospektif dengan sampel sebanyak 100 pasien periode Januari 2021–Juli 2022. Data yang dikumpulkan meliputi karakteristik pasien, diagnosis, jenis PPI, serta evaluasi ketepatan indikasi, obat, dosis, dan lama pemberian. Hasil penelitian menunjukkan mayoritas pasien berusia 46–55 tahun (27%) dengan jenis kelamin perempuan (57%). Gastritis non-spesifik merupakan diagnosis terbanyak (78%). Obat PPI yang paling banyak digunakan adalah omeprazole (47%). Evaluasi menunjukkan ketepatan indikasi (100%), ketepatan obat (100%), ketepatan dosis (99%), namun ketepatan lama pemberian belum optimal (0%). Penelitian ini menyimpulkan penggunaan PPI sudah tepat dari segi indikasi, obat, dan dosis.</p>Devi Putri RosmawatiTahoma SiregarJerry Jerry
Copyright (c) 2026 Sainstech Farma: Jurnal Ilmu Kefarmasian
2026-01-222026-01-22191364010.37277/sfj.v19i1.2568Pengawasan Mutu Terhadap Penarikan Valsartan akibat Pencemaran Obat
https://journal.istn.ac.id/index.php/saintechfarma/article/view/2378
<p>Industri farmasi memegang peranan penting dalam menjaga keamanan, khasiat, dan mutu obat-obatan. Penarikan valsartan, akibat cemaran zat kimia berbahaya seperti NDMA dan NDEA yang berpotensi memicu kanker, menjadi sorotan tajam. Tujuan dari tinjauan artikel ini yaitu mengulas kebijakan penarikan produk valsartan oleh BPOM, menelaah peran dan tanggung jawab industri farmasi dalam pengawasan mutu, serta membandingkan pendekatan yang diambil oleh regulator internasional (EMA, FDA) dengan Metode yang digunakan adalah mengumpulkan dan menganalisis dengan sumber data primer dan sekunder. Data dikumpulkan dari BPOM dan berbagai penelitian lain sejak tahun 2018 hingga 2025. Kasus penarikan valsartan di Indonesia pada 2018 terjadi karena bahan baku dari Zhejiang Huahai Pharmaceuticals terkontaminasi NDMA dan NDEA, karsinogen yang juga terdeteksi oleh FDA. Kontaminasi ini menegaskan pentingnya pengawasan mutu obat yang ketat. FDA merekomendasikan metode GC-MS/MS untuk mendeteksi cemaran ini, dan batas aman telah ditetapkan oleh Farmakope Indonesia, FDA, dan EMA. BPOM RI menarik produk, menginvestigasi bahan baku, dan memperbarui ketentuan registrasi dengan mewajibkan penilaian risiko cemaran nitrosamin, audit pemasok, dan pengujian cemaran genotoksik untuk mencegah terulangnya insiden serupa serta menjamin keamanan dan mutu obat serta menjamin perlindungan maksimal bagi pasien.</p>Farahgivta AuliaSativa Pradnya SwastiFeby KurniaSatya Adira Putri MaunaRomaito PasaribuNi Made PrilianiMuhamad Rajib Syahrulloh Ar RasyidCarlos Achiro NandaDesy Muliana Wenas
Copyright (c) 2026 Sainstech Farma: Jurnal Ilmu Kefarmasian
191414510.37277/sfj.v19i1.2378Gambaran Pola Peresepan Obat pada Pasien Gastritis di Puskesmas X Kota Depok, Jawa Barat
https://journal.istn.ac.id/index.php/saintechfarma/article/view/2574
<p>Penatalaksanaan gastritis memerlukan terapi farmakologis dengan pemilihan obat yang rasional. Penatalaksanaan gastritis memerlukan terapi farmakologis dengan pemilihan obat yang rasional. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran pola peresepan obat pada pasien gastritis di Puskesmas X Kota Depok periode Juli–Desember 2023. Data diambil dari rekam medis pasien gastritis di Puskesmas X Kota Depok periode Juli–Desember 2023. Sebanyak 73 sampel resep diperoleh berdasarkan kriteria inklusi. Analisis data dilakukan secara deskriptif berupa distribusi frekuensi dan persentase. Hasil: Sebagian besar pasien berjenis kelamin perempuan (79,45%). Golongan obat yang paling banyak diresepkan adalah Proton Pump Inhibitors (PPI) sebesar 60,27% dengan omeprazole sebagai golongan obat yang paling banyak. Sebagian besar resep tidak menunjukkan adanya interaksi obat (89,04%), sedangkan interaksi minor, sedang, dan mayor berturut-turut sebesar 1,37%, 6,85%, dan 2,74%. Pola peresepan obat gastritis di Puskesmas X Kota Depok didominasi oleh penggunaan PPI, terutama omeprazol, dengan sebagian besar merupakan obat tunggal. Temuan ini diharapkan dapat menjadi dasar untuk meningkatkan peresepan obat yang lebih rasional di fasilitas kesehatan primer.</p>Tania Rizki AmaliaLili MusnelinaRizka Munzilah
Copyright (c) 2026 Sainstech Farma: Jurnal Ilmu Kefarmasian
2026-02-232026-02-23191465210.37277/sfj.v19i1.2574Evaluasi Peresepan Antibiotik pada Pasien Infeksi Menular Seksual dengan Metode ATC/DDD di Klinik Utama Kimia Farma Cililitan Besar
https://journal.istn.ac.id/index.php/saintechfarma/article/view/2525
<p>Infeksi Menular Seksual (IMS) yang meningkat secara global mengancam efektivitas terapi akibat resistensi antimikroba (AMR) yang dipicu peresepan antibiotik irasional. Evaluasi penggunaan obat, khususnya dengan metode WHO-ATC/DDD, menjadi krusial untuk mengendalikan AMR. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi rasionalitas dan pola peresepan antibiotik pada pasien IMS di Klinik Utama Kimia Farma Cililitan Besar. Desain deskriptif analitik kuantitatif <em>cross-sectional</em> digunakan, dengan pengumpulan data retrospektif dari rekam medis pasien IMS bakteri (usia >17 tahun, terapi oral, non-komorbid) periode Januari-Desember 2024. Analisis kuantitatif mencakup profil pasien, pola penggunaan DDD/1000 pasien/hari, serta kesesuaian pedoman. Hasil menunjukkan pasien didominasi laki-laki (83,61%) dan usia 36-45 tahun (55,74%), dengan Gonore (78,7%) sebagai diagnosis terbanyak. Cefixime 200 mg dan Doksisiklin 100 mg paling sering diresepkan; Doksisiklin (17,79) menunjukkan DDD/1000 pasien/hari tertinggi. Mayoritas antibiotik termasuk kategori ACCESS/WATCH. Secara umum, peresepan antibiotik dinilai rasional. Namun, perlu perhatian khusus pada penggunaan Ciprofloxacin untuk gonore yang tidak lagi direkomendasikan karena resistensi. Pengawasan berkelanjutan diperlukan guna meningkatkan kualitas terapi dan mengendalikan resistensi. Pasien Infeksi Menular Seksual (IMS) didominasi oleh kelompok laki-laki (83,61%) pada usia dewasa akhir. Antibiotik yang paling banyak digunakan adalah Cefixime 200 mg (40,98%) dan Doksisiklin 100 mg (32,33%). Analisis kuantitatif menunjukkan nilai konsumsi tertinggi adalah Doksisiklin (17,79 DDD/1000 pasien/hari) diikuti Cefixime (11,50 DDD/1000 pasien/hari). Secara umum, penggunaan antibiotik dikategorikan rasional, namun pengawasan berkala diperlukan untuk menjaga kualitas terapi dan efisiensi obat.</p>Awanda Pramesti GanesitaTahoma SiregarTania Rizki Amalia
Copyright (c) 2026 Sainstech Farma: Jurnal Ilmu Kefarmasian
2026-02-232026-02-23191535810.37277/sfj.v19i1.2525Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak Etanol Kulit, Daging Buah dan Biji Terong Belanda (Solanum betaceum Cav.) dengan metode DPPH (2,2-Difenil-1-Pikrilhidrazil)
https://journal.istn.ac.id/index.php/saintechfarma/article/view/2582
<p>Paparan radikal bebas akibat pola hidup modern dapat memicu kerusakan sel dan berbagai penyakit degeneratif, sehingga diperlukan sumber antioksidan alami yang aman. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kandungan senyawa metabolit sekunder dan aktivitas antioksidan ekstrak etanol kulit, daging buah, dan biji terong belanda (<em>Solanum betaceum </em>Cav.). Ekstrak dibuat secara maserasi dalam etanol 96% dan dilakukan skrining fitokimia. Uji aktivitas antioksidan dilakukan dengan metode DPPH secara spektrofotometri UV-Vis pada panjang gelombang 517 nm. Hasil penelitian menunjukkan adanya flavonoid, saponin, tanin, triterpenoid, dan steroid pada ekstrak dan serbuk kulit, daging buah dan biji terong belanda. Aktivitas antioksidan ekstrak kulit terong belanda termasuk dalam kategori sedang dengan nilai IC<sub>50</sub> sebesar 197,78 ppm, sementara itu ekstrak daging buah dan biji menunjukkan aktivitas antioksidan dalam kategori lemah dengan nilai IC₅₀ sebesar 267,17 ppm dan biji dengan nilai IC₅₀ sebesar 315,27 ppm.</p>Herdini HerdiniTiah RachmatiahTemmy Khairunissa
Copyright (c) 2026 Sainstech Farma: Jurnal Ilmu Kefarmasian
2026-02-232026-02-23191596810.37277/sfj.v19i1.2582