The Audit Seismik dan Perumusan Skema Perkuatan Bangunan Gedung Beton Bertulang Eksisting Berdasarkan SNI 9274:2025

Authors

  • Bagus Ririh Datwan Adiyaksa Program Studi Magister Teknik Sipil, Fakultas Sains Terapan dan Teknologi ISTN, Jakarta
  • Suryawan Murtiadi Program Studi Magister Teknik Sipil, Fakultas Sains Terapan dan Teknologi
  • Syahril Taufik Program Studi Magister Teknik Sipil, Fakultas Sains Terapan dan Teknologi

DOI:

https://doi.org/10.37277/stch.v36i3.2681

Abstract

Pemutakhiran peta bahaya gempa Indonesia melalui SNI 1726:2019 meningkatkan tuntutan beban gempa rencana, sehingga banyak bangunan gedung yang dirancang dengan standar terdahulu berpotensi tidak lagi memenuhi persyaratan keselamatan. Penelitian ini mengevaluasi kapasitas seismik gedung perkantoran beton bertulang dua lantai dengan satu lantai atap yang dibangun tahun 2011 di Sulawesi Utara, mengidentifikasi komponen defisien, serta merumuskan dan memverifikasi skema perkuatannya. Properti material ditetapkan dari audit struktur berupa uji palu beton, ultrasonic pulse velocity, pemindaian tulangan, uji karbonasi, dan pengambilan beton inti, kemudian dikalibrasi melalui analisis regresi. Audit menemukan cacat pelaksanaan berupa keropos pada badan dinding geser, dengan beton inti yang dibor langsung pada elemen tersebut hanya menghasilkan 10 MPa. Struktur dimodelkan sebagai rangka ruang tiga dimensi dan dianalisis dengan prosedur dinamik ragam spektrum respons dalam kerangka SNI 9273:2025 dan SNI 9274:2025, dengan tuntutan beban menurut SNI 1726:2019 dan kapasitas penampang menurut SNI 2847:2019. Klasifikasi sistem penahan beban lateral diuji terhadap kriteria sistem ganda SNI 1726:2019 Pasal 7.2.5.1 dan sensitivitas hasil terhadap faktor modifikasi respons diperiksa pada R = 8, R = 7, dan R = 6; sistem ganda dengan R = 7 ditetapkan sebagai dasar perancangan perkuatan. Hasil menunjukkan struktur bersifat kaku tetapi tidak kuat: simpangan antar tingkat terbesar hanya mencapai 37,5 % batas ijin, sedangkan 38 dari 44 kolom atau 86,4 % telah mencapai rasio kebutuhan-kapasitas 1,00. Defisiensi terbesar terjadi pada geser dinding geser (4,73), hierarki kolom kuat-balok lemah (1,70), dan sambungan balok-kolom (1,47); dua yang terakhir bersifat invarian terhadap R karena diturunkan dari desain kapasitas. Skema perkuatan gabungan berupa injeksi grout pada badan dinding geser, pembungkusan FRP tiga lapis, dan selubung beton bertulang menurunkan seluruh rasio menjadi 0,59 sampai 0,97.

Kata Kunci: Audit Seismik; Rasio Kebutuhan-Kapasitas; Ketidakberaturan torsi; Perkuatan FRP; Selubung Beton Bertulang

 

Published

2026-09-07

Most read articles by the same author(s)

<< < 1 2